, ,

Gunungan 5.466 Ton Gula di Pasuruan, Ancaman Krisis untuk 5.000 Petani

oleh -446 Dilihat

Krisis Gula di Pasuruan: 5.466 Ton Tertimbun, Masa Depan 5.000 Petani Tebu di Ujung Tanduk

Pasuruan- Sebuah krisis yang mengancam keberlangsungan hidup ribuan petani tebu tengah melanda Kabupaten Pasuruan. Imbas dari beredarnya gula rafinasi secara bebas di pasaran, Gunungan sebanyak 5.466 ton Gula Kristal Putih (GKP) hasil jerih payah petani terpaksa menumpuk tanpa kepastian terjual di gudang Pabrik Gula (PG) Kedawung. Situasi ini tidak hanya menyebabkan kerugian finansial yang parah, tetapi juga mengancam siklus tanam mendatang dan program swasembada gula nasional.

Gunungan 5.466 Ton Gula di Pasuruan, Ancaman Krisis untuk 5.000 Petani
Gunungan 5.466 Ton Gula di Pasuruan, Ancaman Krisis untuk 5.000 Petani

Baca Juga :  Tebar Senyum dan Semangat Cara Polwan Pasuruan Peringati HUT ke-77

Dilema di Ladang dan Pabrik

Padahal, di tengah himpitan ekonomi, PG Kedawung masih harus terus melakukan penggilingan tebu hingga Desember 2025. Ini menciptakan dilema yang pelik: di satu sisi, pabrik harus menjalankan operasinya, tetapi di sisi lain, gudangnya sudah penuh dengan stok gula yang tidak laku-laku.

Mawardi, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Pasuruan, menyatakan keprihatinan yang mendalam. “Program pemerintah untuk swasembada pangan memang sudah betul dan patut didukung. Namun, realitanya di lapangan justru pahit. Petani tebu merugi karena tumpukan gula kami tidak laku, semua ini akibat gula rafinasi yang beredar bebas di pasaran tanpa kontrol,” ujarnya.

Ancaman Bangkrut dan Utang yang Menumpuk

Krisis ini langsung menyentuh nafkah 5.000 petani tebu di Pasuruan yang menggarap lahan seluas 2.500 hektar. Selama ini, seluruh siklus produksi tebu, mulai dari masa tanam hingga penggilingan, bergantung pada pinjaman modal dari bank.

“Pada harga pokok produksi tebu sebesar Rp 14.500 per kilogram pun, kami sebenarnya sudah bekerja dengan margin yang sangat tipis. Kondisi saat ini benar-benar memukul telak. Hasil panen kami, Gula Kristal Putih, kalah bersaing harga dan kalah pasar oleh gula rafinasi,” jelas Mawardi.

Akibatnya, kelompok tani kini tidak mampu membayar cicilan utang mereka kepada bank. Jika tidak ada solusi segera, bukan hanya kebun tebu yang terancam, tetapi juga jerat utang yang kian mencekik.

Pintu Masa Depan yang Hampir Tertutup

Ancaman terbesar berada di depan mata. Musim tanam tebu berikutnya diperkirakan akan dimulai pada bulan Januari 2026. Jika 5.466 ton gula yang menumpuk itu belum juga terserap pasar hingga saat itu, petani tidak akan memiliki modal sama sekali untuk membeli bibit, pupuk, dan merawat lahannya.

“Ini adalah situasi genting. Tanpa modal dari hasil penjualan gula, mustahil bagi kami untuk menanam lagi. Rantai produksi akan terputus, dan impian swasembada gula akan semakin menjauh,” tambah Mawardi.

Desakan untuk Tindakan Tegas dan Nyata

Sebagai jalan keluar, para petani menaruh harapan sepenuhnya pada intervensi tegas pemerintah. Mereka mendesak dua langkah konkret yang harus dilakukan segera:

  1. Menghentikan Peredaran Gula Rafinasi Ilegal: Satgas Pangan harus turun langsung ke lapangan untuk menyetop dan menertibkan peredaran gula rafinasi yang menyimpang dari peruntukan industri (misalnya untuk industri makanan dan minuman) dan beredar bebas di pasar ritel. Ini adalah akar masalah yang mendistorsi harga.

  2. Membeli Stok Gula yang Tertimbun: Pemerintah, dalam hal ini melalui Bulog atau BUMN terkait, harus segera membeli seluruh stok gula petani yang tertimbun di PG Kedawung. Langkah ini adalah stimulus darurat untuk menyelamatkan likuiditas petani dan menyelamatkan musim tanam mendatang.

“Intinya, agar kami bisa bernapas lega dan memiliki harapan untuk tanam lagi, pemerintah harus bertindak. Setop peredaran gula rafinasi di pasar umum dan beli gula kami yang masih tertimbun di pabrik. Itu adalah solusi nyata yang kami tunggu,” pungkas Mawardi menutup percakapan.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.